Beranda > Lain-lain > Alay, Anak layangan ato apa?

Alay, Anak layangan ato apa?


Kali ini saya akan coba membahas dari Definisi apa sih alay itu? alay atau orang udik atau orang kampung (dalam arti kampungan), menrupakan salah satu gelar yang ngga boleh banget didapetin sama setiap remaja, ya ngga? padahal, pemahaman setiap orang tentang alay itu beda-beda banget.

beberapa pemahaman yang berbeda, membuat status makin ngga jelas. buat orang-orang kelas 1 yang “jahat”, alay itu dilihat dari kemampuan ekonomi. buat orang-orang kelas 1 yang “baik”, mereka baru ngecap seseoran sebagai alay dari gayanya, ngga peduli tajir apa ngga. untuk yang kelas menengah, alay itu setiap dari mereka yang k4Lo n9eT1k yA b3g!nI n1e3cH. dan untuk kelas bawah, mereka adalah orang yang dicap sebagai alay. kasian deh.

ada beragam penerapan konteks alay/ngalay/dsb:

ngga alay, tapi suka ngalay. misalnya mainan di eskalator sebuah mall.
alay, tapi up-to-date. misalnya emo blok m.
ngga alay, tapi kepedean. misalnya nari-norak di depan umum.
ngga alay, tapi dicap alay. ya itu lah pemahaman yang berbeda, bos!

tapi menurut pemahaman gue, ngga begitu. alay itu ngga berdasarkan status ekonomi kok. dan sesungguhnya ngga ada itu yang namanya alay atau orang udik atau orang kampung (dalam arti kampungan). mereka adalah orang terlambat. udah kok, itu doang. mereka cuma terlambat. alasan mereka terlambat pun karena kalo mereka “mencicipi” sesuatu barengan dengan golongan di atas mereka, nanti dianggap sok atau apa lah. sebagai contoh,

waktu booming fs, yang ngview pasti dominan golongan atas. pas booming fb, golongan bawah merajalela di fs.
dulu tULisAn be9iN1 pernah dipake sama banyak golongan atas. tapi ketika disadari itu norak, jadi ngga jaman lagi. akhirnya sekarang dipake sama golongan bawah.

iya kan? mereka itu selalu mendapat dari sisaan golongan atas. karena mereka tidak diberi kesempatan mencicipi, mereka nyobanya pas udah ngga jaman lagi. mungkin beberapa akan mengatakan, “salah sendiri ngga nyobain dari awal!” tapi yah, tekanan dari lingkungan mereka membuat mereka ngga bisa merasakannya, bos. kya emo blok m, mereka dihina-hina kan? tapi pas nanti udah ngga jaman, hinaan yang mereka terima ngga akan seheboh sekarang.

yang jadi pertanyaan, kenapa harus seperti itu? ketika mereka mencoba, kita memarahi. ketika kita tak butuh lagi dan mereka mencoba, kita menghina. lantas apa mau kita? apa ngga bisa untuk tidak terlalu mengurusi orang lain?

-Bowo Priyanto-
Sumber : Olgas blogspot

Kategori:Lain-lain
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: